Tag

, , , , , , ,

sugeng rawuh

Banner selamat datang acara reuni (kredit : espero92 Purwokerto)

Lebaran kali ini saya dan suami kompak bener, kompak ikut reuni. Ayahnya ikut reuni teman-teman SMA-nya, saya reuni dengan kawan SMP. Kebetulan kabar rencana reuni ini datang hampir bersamaan waktunya.

“Tanggal berapa acara reuni Ayah? Ibu udah daftar, lho?” Saya sempat panik, khawatir bentrok dengan acara reuni suami. Bukan apa-apa, masalahnya tempat reuni suami di Majenang, sedangkan saya di Purwokerto. Satu di barat, satu di timur. Selain itu, setiap kali mudik belum tentu saya bisa ke Purwokerto, ‘kampung halaman’ ke-2, mengingat saya gede di sana.

“Kalau bentrok, berarti berangkat sendiri-sendiri, ya? Ayah ke Majenang, Ibu ke Purwokerto?” usul saya, yang langsung dibalas dengan ekspresi ketidaksetujuan oleh suami.

“Ayah tanggal 28, Ibu tanggal berapa?”

Fiuuuhh…lega saya. Karena ternyata beda hari, acara reuni SMP saya kebetulan tanggal 29.

reuni espero92.png

Selawe alias dua puluh lima tahun tak berjumpa (kredit: espero92 Purwokerto)

Reuni, kopdar, atau ketemuan, atau apalah, intinya bagi saya punya makna yang sama, silaturahmi. Ketemu lagi dengan teman atau kerabat yang lama tak berjumpa. Biasanya, sih, dalam acara semacam ini saya bawa pasukan lengkap. Suami dan anak-anak. Kecuali, karena satu hal yang nggak memungkinkan, baru saya berangkat sendiri. Seperti saat saya ikut reuni SMA 7 tahun lalu. Suami sudah kembali makaryo alias masuk kerja di Purwakarta, dan anak bungsu saya (anak ke-3 kala itu), baru 1 tahun. Karena saya berangkat ngebis dari rumah ibu saya di Cimanggu, Majenang, ke Purwokerto di hari H, hanya saya dan 2 anak yang gede yang berangkat. Terpaksa si bungsu saya tinggal dengan eyang putrinya.

Ada yang bilang, lebih enak datang ke reuni itu sendiri, tanpa pasangan tanpa anak. Apalagi bila itu reuni dengan teman sekolah. Lebih leluasa. Barangkali ada benarnya juga. Memang, kadang kita sedikit canggung berinteraksi dengan teman bila ada pasangan. Meski menurut saya, tergantung orangnya. Model yang cuek bebek kayak saya, mau ada suami, mau nggak ada suami, ya, enak-enak aja. Wong, suami sudah hafal dengan adat saya. Mau ngakak, ya, ngakak aja, dasarnya saya memang nggak bisa ketawa kalem. Kalaupun (dianggap) sedikit kurang leluasa, lagi asyik-asyik ngobrol, tiba-tiba dipotong si kecil, “Ibu, mau pipis…” atau anak rewel. Tapi kalau enjoy, no problem, toh?

Ada pula yang pasangannya memang enggan menemani. Takut bete, boring. Ya, nggak masalah. Kalau pasangan merasa nggak nyaman menemani kita, dan dia percaya sama kita, kasih ijin, ya, nggak perlu dipaksa juga kan? Prinsip saya, yang penting pasangan kita tahu, kita kemana, sama siapa, acara apa. Sepanjang jujur dan ada kesepakatan antara satu dengan yang lainnya, everything is okay.

Reuni itu berpotensi selingkuh, CLBK! Tergantung orangnya, Pak, Bu, Bro, Sis. Ada reuni tak ada reuni, kalau niat selingkuh, ya, selingkuh aja. Iya, tapi kalau nggak ketemu mantan pacarnya jaman sekolah dulu, paling nggak perasaan suka nggak muncul lagi, nggak CLBK.

Saya memang tak punya masalah dengan urusan CLBK jaman sekolah, karena nggak ada teman sekolah yang naksir saya (hiks, kasihan amat, Bu! :D). Artinya, suami saya relatif aman dari kekhawatiran istrinya ini terbelit CLBK. Tapi lain halnya dengan suami. Saya tahu suami pernah pacaran dengan kawan SMA-nya. Jujur, sempat ada rasa gimanaaa waktu suami bilang akan reuni SMA. Kira-kira mantannya suami datang nggak, ya? Wajarlah kalau muncul rasa semacam itu. Meski begitu, dari awal saya ijinin suami ikut. Toh, sedari awal suami bilang, “Ayah daftar untuk sekeluarga.”. Artinya, suami memang berniat mengajak saya ke acaranya itu. Selama ini pun, setiap kali dia janjian ketemu dengan teman-teman SMA-nya yang kebetulan tinggal satu kota, ya, selalu ngajak saya dan anak-anak juga. Kesimpulannya, kalau memang khawatir berpotensi CLBK, datanglah sekeluarga, ajak pasangan berinteraksi dengan teman-teman kita atau sebaliknya, kita ikut berinteraksi dengan teman-teman pasangan. Satu lagi, ngobrolnya ramai-ramai dengan yang lain. Jangan cuma dengan si masa lalu saja. Ingat, selingkuh dan CLBK terjadi berawal dari niat dan cari-cari kesempatan untuk itu.

Reuni itu cuma ajang pamer kesuksesan!

Kemarin, sempat juga ada teman yang berkomentar begitu, demi melihat postingan foto reuni dari teman yang lain. Saya tertawa, kok, bisa dia berkomentar begitu sementara dia sendiri tak datang. Mungkin ada saja yang memang punya niat awal untuk ‘pamer’. Namanya juga manusia. Kita sendiri juga barangkali sering pamer, entah disadari atau tidak. Tapi kalau kemudian melabeli reuni hanya sebagai ajang pamer, saya nggak setuju. Dua kali saya ikut acara reuni teman sekolah, rasanya, sih, tak ada teman saya yang ujug-ujug bilang, “Aku, dong, udah punya ini, itu!”. Atau itu hanya kebetulan? Atau saya memang kurang peka dengan sikap show off teman-teman? Entahlah tapi saya yakin teman saya memang nggak seperti itu. Atau kalau pun memang ada yang begitu, ya, biarlah. Anggap saja dia sedang memotivasi kita.

Sebaliknya, dua kali ikut reuni teman sekolah saya justru terbengong-bengong bin takjub. Di reuni SMA 7 tahun lalu, tiba-tiba ada seorang teman dan istrinya, yang njejeri saya. Dia nyapa  saya dulu, tanya saya tinggal dimana, anak berapa, dan lain-lain. Ya…pertanyaan yang umumnya ditanyakan pada teman yang sudah lama ngga ketemu. Nggak ada nada dia sedang menginterograsi saya atau nada dia sedang menyombongkan kerjaannya saat saya tanya balik ke dia. Yang membuat saya kaget, kami justru tak pernah akrab saat SMA, dan seingat saya kami beda jurusan. Lho, ternyata dia ingat aku, toh. Kirain tahu namaku juga nggak….

reuni selawe

Dua teman perempuan saya yang baru ketemu lagi 25 tahun kemudian, mereka datang dari Jakarta dan Bekasi demi reuni (kredit: espero92 Purwokerto)

Sama juga kejadiannya saat saya datang di reuni SMP kemarin. Beberapa teman perempuan berteriak, “Hestiiiiii…..” dan bruk, peluk saya. Sambil membalas pelukan hangatnya, sejujurnya saya mbatin, “Ya, Allah, dia ingat namaku. Aku kok lupa namanya….”. Rasanya itu berdosa sekali saat itu, Gustiiii…kok aku pelupa, ya? Ada juga yang sama ceritanya dengan kisah saat reuni SMA. Ada teman yang saat SMP saya anggap sombong, nggak kenal saya, boro-boro pernah akrab, tiba-tiba, “Hai…Hesti kan? Jal, kelingan aku ra?”. Duh, rasaya itu bahagia bukan main, eh, si A tahu namaku, ingat namakupadahal aku cuma remahan rengginang baik dulu maupun sekarang….

Ada yang bilang juga, sisi negatif reuni berasal dari chat grup. Hmm, lagi-lagi harus saya bilang, tergantung kita! Saya sendiri bukan termasuk orang yang selalu rajin berbalas chat di grup. Kadang rajin, kadang ngilang, kadang silent reader, kondisional aja. Kadang kalau notif WA sudah ribuan dan lieur untuk baca satu-satu atau nggak sreg dengan topik obrolan, ya, klik clear chat aja, bereslah sudah. Barangkali jurus clear chat ala saya bisa dong dipakai untuk meminimalisir dampak negatif dari chat grup. Soal postingan member grup yang cenderung mudharat, akali saja dengan menerapkan rules di grup tidak boleh posting SARA, pornografi, hoax, atau sesuatu yang menyinggung anggota grup lainnya. Insya Allah apa yang dikhawatirkan bisa diminimalisir. Dari belasan grup whatsapp yang saya ikuti, beberapa diantaranya adalah grup reuni, justru postingan-postingan tak jelas bukan berasal dari grup reuni. Tapi dari grup-grup “terhormat” yang nggak punya rules jelas. Mau negur kadang dilematis juga, nggak enak dengan faktor senioritas misalnya. Kalau di grup reuni, malah lebih enjoy negur semisal ada teman yang nyeleneh. Kita kan sudah tahu karakternya, relatif seumuran pula. Negurnya pun bisa dengan bahasa yang enak. Kecanduan chat di grup teman sekolah? Ya, kalau itu sih tinggal kontrol diri aja.

Soal acara reuni yang (berkesan) hanya hahahihi? Dirembug dong. Koordinasikan yang matang, rencanakan semaksimal mungkin, tampung ide dari teman-teman. Buatlah acara reuni yang berkesan, seru, bermanfaat. Kalau memang nggak suka ada acara yang heboh-heboh, ya, kasih masukan saja ke teman-teman. Perkara diterima atau nggak, tinggal gimana kita mau menyikapinya. Simpel.

So, apa dong sisi positif reuni? Ya, silaturahmi! Bukankah intinya itu? Entah reuni, entah kopdar, entah berkumpul dengan keluarga besar, bukankah ruhnya sama, silaturahmi? Manfaatnya apa? Buanyak! Saya percaya, silaturahmi adalah jalan rejeki. Misal, kita tersesat di suatu tempat yang kita nggak mengenal sekitarnya. Eh, kok, kita ingat ada teman yang tinggal di kota itu, minta tolong ke dia. Apa itu bukan rejeki namanya? Kita ada keperluan atau ada masalah dengan satu instansi, eh, kok, kita ingat ada kawan yang bekerja di instansi itu dan mau bantu kita. Rejeki juga kan? Atau menggalang dana untuk almamater kita, untuk membantu teman atau guru yang kena musibah, itu rejeki juga lho. Double rejeki malah. Yang membantu dapat rejeki dalam bentuk amal, yang dibantu rejeki dalam bentuk pertolongan. Simbiosis mutualisma yang keren, bukan?

Masih khawatir dengan dampak negatif reuni? Positifan aja, Braayyyy….

 

 

 

Iklan