Tag

,

Pagi itu saya termenung, membaca curahan kerinduan seorang anak pada ayahnya. Bukan rindu yang biasa. Bukan rindu seperti rindu saya pada Bapak. Ini berbeda. Dalam rindu saya, saya masih dapat melukis kenangan bersama Bapak dengan baik. Saya masih mampu mengukir senyum Bapak dengan sempurna meski beliau telah tiada. Ini tentang rindu yang penuh dengan kepedihan. Rindu yang bertumbuh pada jiwa yang patah.

photo by Hesti Edityo

photo by Hesti Edityo

Bukan kali ini saja saya mendapati kisah serupa. Bertahun lalu seorang anak datang di hadapan saya dengan uraian air mata. Berkisah ia, tentang beban hidup ibunya, membiayai anak-anaknya seorang diri karena ditinggal pergi sang ayah yang menikahi perempuan lain.

“Bapak pergi begitu saja, Bu. Menikah lagi dan tinggal di Jakarta tanpa pernah menanyakan kondisi kami. Mama seorang diri membesarkan kami, bekerja dengan upah tak tentu….”

Speechless saya mendengarnya. Ada luka yang terbaca jelas di matanya. Ini tak adil!

Di lain waktu saya kembali mendengar keluh kesah seorang anak yang ditinggal ibunya. Orang tuanya bercerai, entah karena sebab apa. Si ibu memutuskan pergi dari rumah, meninggalkan anak-anaknya bersama mantan suaminya. Bertahun-tahun sang anak tak pernah berjumpa dengan sang ibu. Cerita buruk tentang ibunya, selalu mengalir dari mulut sang bapak. “Tak usah kau cari dia!”. Meski di kemudian hari ia mendapatkan ibu pengganti saat bapaknya menikah kembali, rindu yang membumbung terlanjur melukai hatinya. Celakanya, anak ini begitu pendiam, introvert. Orang-orang di dekatnya tak menyadari ada magma yang membara yang siap menyembur kapanpun. Ia membalas dendam rindunya dengan cara tak disangka.

Bapaknya, kakek neneknya, hanya bisa terpaku saat datang pada saya. Ya, mereka datang karena surat panggilan dari sekolah berkaitan dengan perilaku sang anak. Peraturan di sekolah secara jelas memberikan sanksi terberat atas kesalahan si anak, dikeluarkan! Tapi apa daya, sanksi itu akhirnya urung diberikan atas dasar kemanusiaan. Anak ini sudah hancur karena situasi yang terjadi pada orang tuanya, semakin hancur pula karena dia salah memilih jalan, mungkinkah kehancurannya digenapi dengan mengeluarkannya? Mendengarkan kisah yang akhirnya terucap dari bibirnya saja, mampu membuat saya menderaskan air mata. Apalagi dia hanya tinggal selangkah menyelesaikan SMA-nya, hanya tinggal menanti ujian akhir saja.

Tak semua pasangan sanggup menyempurnakan janji untuk tetap bersama hingga maut memisahkan. Kadang, jika kerikil tajam begitu menusuk, perpisahan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Tapi, tak seharusnya sang anak turut merasakan luka yang sama, bukan? Anak-anak seperti ini, sudah cukup terluka saat mendapati kenyataan bahwa bapak ibunya tak bersama lagi. Adilkah, jika kemudian si anak dipaksakan untuk ikut merasakan kebencian bapak atau ibunya? Kenapa tak biarkan imajinasi sang anak hanya terisi hal-hal indah tentang bapak atau ibunya, meskipun dalam kenyataannya orang tuanya begitu bejat? Bila memang enggan menemui bekas pasangan lagi, setidaknya singkirkan sedikit saja ego dalam diri untuk sekedar menemui sang anak. Yeah, setidaknya, agar sang anak bisa sedikit berkata, “Aku masih punya mereka meski mereka tak lagi bersama…”

Iklan