Tag

Sedia payung sebelum hujan. Begitulah kira-kira perumpamaan yang pas dikaitkan dengan aktivitas menabung. Jaman kecil dulu, tabungan yang popular adalah celengan. Mulai dari celengan dari bambu yang diberi celah, celengan tanah liat, sampai celengan dengan bentuk-bentuk lucu. Biasanya, pas kecil lumayan semangat ngumpulin duit di celengan. Tapi, begitu dewasa, apalagi begitu sudah berlabel emak-emak, butuh perjuangan khusus buat istiqomah menabung. Apalagi bila kebutuhan hidup semakin banyak, butuh strategi khusus untuk menyiapkan dana khusus dalam tabungan.

Dulu, sewaktu gaji suami dan gaji saya dibayarkan manual alias tidak melalui rekening bank, menabung menjadi ritual yang butuh niat ekstra. Memang, awalnya, saya berprinsip menabung itu harus didahulukan, bukan menunggu uang gaji yang tersisa di ujung bulan, karena nyaris mustahil bersisa. Mulanya masih bisa, tuh. Setiap bulan, selain bayar listrik, telepon, cicilan rumah, cicilan kendaraan, saya sempatkan pula menabung ke bank. Lama-lama muncul rasa malas, apalagi begitu sistem pembayaran tagihan ini itu bisa dilakukan di mana saja. Tak harus ke bank. Melawan rasa malas ke bank, apalagi sebelum berangkat sudah terbayang antriannya yang panjaaaaaangg, lumayan sulit juga. Apalagi sempat pula saya mengalami kejadian yang menyebalkan dulu. Sudah antri lama berjam-jam, eh, ada seorang oknum tentara anggota Kopassus yang mendadak menyerobot antrian tanpa malu. Kisah ini pernah saya tulis di Kompasiana.

Anehnya, rasa malas itu hilang kalau tujuan ke bank adalah menarik tabungan. Hadeeuuhh langsung lupa dan mendadak sabar melihat antrian yang panjang bagai ular naga. Makanya, begitu sistem penggajian diubah dari manual menjadi otomatis transfer ke rekening, saya senang sekali. Bayangan saya, menabung menjadi ritual yang lebih mudah karena tak perlu antri di teller, cukup sisakan sebagian uang saja di rekening. Anggaplah itu sebagai upeti yang wajib ditinggalkan di rekening.

Kenyataannya? Ah, ternyata masih saja sulit. Memang, sepersekian dari gaji saya sengaja sisakan di rekening, nggak saya ambil semua setiap gajian. Tapi, begitu butuh sesuatu, lebih tepatnya ingin sesuatu, akhirnya berpikir, “Ah, ambil dulu aja di tabungan. Sementara aja, kok. Nanti kalau ada rejeki dari yang lain masukin lagi ke tabungan, deh!”.

Khayalan yang manis. Tapi tak semanis kenyataannya. Nyatanya? Begitu ada penggantinya lebih sering bablas, alias dipakai untuk lainnya. Alhasil makin hari tabungan bukan semakin bertambah tetapi semakin susut. Pantaslah dulu seorang teman pernah memberi nasihat, jangan pernah mengingat jumlah saldo di rekening kita!

Life must go on, tabungan harus jalan terus! Hidup di perantauan jauh dari sanak saudara, sebisa mungkin tak merepotkan orang lain. Terutama soal uang. Artinya, mau tak mau betul-betul harus disiplin menabung. Ingat saran teman soal melupakan saldo tabungan, akhirnya, saya putuskan untuk menabung di rekening terpisah dari rekening gaji. Semuanya tetap pakai ATM dengan pertimbangan, saat butuh dalam kondisi mendesak seperti saat si bungsu mendadak harus opname, saya tak perlu repot tarik tunai ke teller. Hanya saja untuk menjaga dari bujuk rayu nafsu berdalih kepepet dalam tanda kutip, sengaja ATM rekening tabungan saya selipkan di bagian dompet yang tersembunyi. Sedangkan ATM dari rekening gaji di bagian yang justru paling gampang terlihat. Ini cukup efektif memanipulasi otak, bila ATM yang ada, ya, hanya itu. Saya sengaja pula, saldo di rekening gaji kali ini justru dihabiskan. Kalaupun ada yang ditinggalkan, sekedar sebagai “penunggu” rekening saja. Lumayan mengerem keinginan belanja barang yang tak perlu, lho. Karena begitu melihat saldo yang minim pakai banget di rekening membantu juga untuk mengusir godaan.

Berhubung tabungan memang dikhususkan untuk keperluan yang sifatnya emergency dan sangat penting (semisal untuk biaya berobat atau sekolah), saya punya aturan penggunaannya. Kalau ada kebutuhan lain yang tidak terlalu mendesak tapi memang perlu, saya pilih pinjam uang di koperasi kantor untuk membeli meski di tabungan ada uang sejumlah harga barang. Kenapa harus pinjam di koperasi kantor? Pertama, pembayaran cicilan tak merepotkan karena otomatis potong dari gaji. Kedua, tabungan di bank tetap utuh, tetapi kita tetap bisa membeli barang yang dibutuhkan. Ketiga, jumlah pinjaman di koperasi berkaitan dengan nominal SHU yang kita terima nanti. Semakin besar hutang, semakin besar pula SHU-nya kan? Dana yang diterima dari SHU ini biasanya saya masukkan lagi ke tabungan sukarela koperasi. Jadi sambil menyelam minum air. Sudah hutang, masih menerima untung. 😀

Ibu saya sebenarnya pernah mengajarkan untuk menabung dalam bentuk perhiasan emas. Pas butuh sesuatu yang mendesak, sebisa mungkin gadaikan saja perhiasannya, jangan dijual. Tapi, ya, gitu, deh. Kalau buat menggadaikan semangat, tapi masalahnya saya bukan orang yang suka beli perhiasan emas. Jadi memang nggak ada perhiasan yang bisa digadaikan. Aneh, ya, umumnya perempuan suka beli dan pakai perhiasan, saya termasuk perkecualian sepertinya. So, memang begini ini gaya menabung saya. Kita memang harus cermati betul gaya kita dalam mengelola keuangan agar sukses menabung.

banner lomba

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati

Iklan