Tag

Aku masih SMP, waktu kakak pertamaku berlangganan Nova. Ya, itulah kali pertama aku mengenal Nova. Sedari kecil, sedari melek huruf dan bisa membaca, aku memang “melahap” bacaan apapun. Mau majalah, tabloid, surat kabar, novel, komik, semuanya, deh! Mau itu untuk anak-anak, remaja, emak-emak, atau yang serius banget, kalau ingin baca, ya, baca. Saat itu, selain aku, kakakku, ada juga anak-anak kakakku yang selalu berebut setiap hari Kamis saat Nova datang. Alhasil, tak jarang lembar-lembar Nova tercerai berai, lembar yang ini aku yang pegang, lembar yang itu di kakakku, lembar-lembar lainnya di keponakanku. Giliran semua ingin membaca lembar yang sama tetapi berbeda halaman, hebohlah jadinya. Semua ngotot ingin membaca lebih dulu. Bila sudah begitu, keluarlah jurus maut kakakku, “Yang bayar dulu yang baca! Gak sopan nduluin orang tua!”

Haiiishhhh…..kalahlah kita. Segala jurus maut rayuan pun biasanya tak mempan. Satu-satunya cara, sabar menunggu giliran.

Rubrik apa yang paling kusuka di Nova? Banyak, sih. Bisa dibilang semuanya. Untuk rubrik masakan dan fashion, biasanya, aku gunting-gunting. Dikliping, gitu, meski kadang ditempel ke buku, dan lebih sering hanya disimpan begitu saja di file. Nah, gara-gara nggak ditempel inilah, klipinganku yang sudah bejibun ini raib. Usut punya usut, ternyata dijual ke tukang rongsok yang sering lewat komplekku oleh suami! Disangkanya, hanya tumpukan koran yang tak terpakai! Huh, di situ kadang saya merasa sedih! Padahal bagiku, itu termasuk harta karun! Bagaimana tidak, apa yang kumpulkan itu, berarti sangat!

Ada dua peristiwa yang berkesan bagiku terkait Nova. Pertama, waktu dapat hadiah dari Nova. Isinya perlengkapan bayi, seperti bedak bayi, baby bath, baby shampoo, gitu. Lupa kapan persisnya aku dapat itu. Sudah lama bangeeeetttt. Kenapa aku dapat hadiah itu dari Nova? Rasanya, sih, karena surat pembacaku dimuat. Nova emang baik bingits ya….tulis surat pembaca aja dapat hadiah :D.

Kedua, dan yang ini memorable banget, saat aku melahirkan anak ke-2. Saat itu aku kena baby blue syndrome, tapi aku tak menyadarinya, dan tak tahu kalau sedang mengalami itu. Seorang teman yang kemudian memberitahuku soal ini. Penasaran, dan saat itu aku belum akrab dengan internet, jadi tak bisa tanya ke Mbah Google, maka pilihanku adalah mencari referensi dari berbagai majalah dan tabloid wanita. Salah satunya tentulah Nova. Aku dapat apa yang aku cari. Terkejutlah aku, ternyata baby blue-ku sudah termasuk parah, kecemasan yang menimpaku sampai membuatku paranoid. Bukan saja aku mendadak sering menangis, tapi aku sampai dikejar-kejar rasa takut melakukan ini itu. Terpikir untuk konsultasi ke psikolog, sih. Hanya saja, waktu aku datang ke sebuah rumah sakit, sang psikolog yang aku tuju sedang dinas luar kota. Ah, sedihnya! Akhirnya, pilihan pun jatuh ke bu Rieny Hasan. Bukan dengan menemuinya secara langsung, ya, tapi lewat rubrik konsutasi psikologi di Nova tentunya.

Aku tulis apa masalahku, panjang banget. Waktu ngirim, setengah hopeless juga. Aku sempat pesimis suratku dibaca bu Rieny dan dimuat Nova. Aku bayangkan suratku pasti tertumpuk di antara surat-surat lain yang menggunung. Siapa sangka, suratku ternyata dibaca dan dimuat di Nova! Kalau tak salah sekitar 4-5 bulan kemudian. Penjelasan bu Rieny juga oke banget. Salah satu point yang bu Rieny sampaikan adalah, aku harus lebih menikmati hidup, tidak terjebak dengan rutinitas yang menjemukan. Intinya aku butuh me time. Gara-gara nasihat ini pulalah aku kembali menggeluti hobi menulisku. Meskipun aku tak rajin-rajin amat menulis, alias angot-angotan alias kambuhan. Level kambuhnya pun bisa stadium 1 bisa stadium 4, tergantung sikon dan mood. Hehehehehe……

Sebagian kliping-kliping berbagai artikel dari Nova yang tersisa (doc. pribadi)

Sebagian kliping-kliping berbagai artikel dari Nova yang tersisa (doc. pribadi)

Tentang Nova sendiri, menurutku memang tabloid yang komplit, ya. Jadi, rada mikir juga, nih, mau kasih pesan atau saran apa, ya? Hmm….mungkin yang pertama soal rubrik yang berkaitan dengan berita selebriti. Dulu yang membuat aku lebih menyukai Nova adalah karena berita selebritinya bukan yang kelas bigos yang melulu membesarkan “gosipnya” saja. Betul-betul memang kisah menarik seorang selebriti. Semoga Nova tidak terjebak seperti banyak media lain, yang terkadang terbawa arus memberitakan hal yang tak penting. Intinya lebih mengedepankan sisi positif seorang seleb, agar bisa menjadi panutan. Jujur saja, malas saja kalau kita disuguhi kasus-kasus selebriti yang tak penting dan terkadang dijadikan alat menaikkan popularitas.

Yang kedua, mungkin Nova bisa membuat semacam social blog, atau untuk versi yang cetaknya, ada satu halaman yang bisa mewadahi tulisan-tulisan pembacanya seputar dunia wanita. Jadi, semacam media untuk memancing kreatifitas para pecinta Nova. Ya. Mirip-mirip seperti Kompasiana dan Kompas, deh. Tetapi dengan bahasan khusus menyangkut dunia wanita. Eh, boleh ‘kan sebut media lain, ya? Sama-sama Gramedia, toh? Hehehehehe.

Ketiga, soal booklet, lebih sering, dong, kasih bonus booklet. Syukur-syukur temanya variatif. Misal bulan ini masakan, bulan depan fashion, berikutnya tentang keluarga. Aku hobi, lho, kumpulin booklet Nova.

Keempat, semoga Nova tetap keluar dengan bentuk tabloid dan tidak bertransformasi ke dalam bentuk majalah. Karena biasanya kalau menjadi majalah harganya lebih mahal. Nanti tak terjangkau semua orang, deh. 😉

Kelima, semoga Nova tetap konsisten menampilkan kisah-kisah inspiratif. Seperti kisah Anazkia alias Elli Yuliana, yang ikut membuat saya bangga, teman saya bisa terpilih sebagai perempuan inspiratif dan profilnya muncul di Nova. Hebat, euy! Kecup Anaz, ah…..(biar ditraktir makan-makan dan biar saya dikirimi empek-empek lagi). Kecup Nova juga…..

Keenam dan ketujuh, semoga Nova tetap berjaya, dan terus menjadi sahabat wanita Indonesia. Semoga Nova bisa terus memberikan manfaat bagi kita semua. Love you, Nova dan happy birthday! Btw, ultah kita samaan di bulan Pebruari lho…. Eh, nggak ditanya, ya? Hihihihihi

banner 27 tahun Nova

Iklan