Tag

, , , , ,

“Ibu berhenti ngajar aja, ya, Yah….”

my boys (dok. pribadi)

my boys (dok. pribadi)

Inilah kalimat andalan yang seringkali kuutarakan kepada suami saat kegalauanku muncul. Kegalauan yang muncul saat dihadapkan pada peranku sebagai ibu dan pekerjaanku sebagai guru. Biasanya penyebabnya saat anakku sakit, tak ada yang menjaga anakku, atau anak rewel tak mau ditinggal, sementara tugasku sebagai seorang profesional melambai-lambai menuntut tanggung jawab.

Bagai buah simalakama. Kadangkala aku harus “tega” meninggalkan anakku bersama orang lain, menunaikan tugasku, tapi sebagian hatiku tertinggal bersamanya. Atau, kerap pula aku mengabaikan “profesionalisme”, memilih berada di samping anakku tapi sebagian pikiranku melayang ke tempat kerja. Jangan ditanya bagaimana rasanya, campur aduk, tak jarang disertai dengan tetesan air mata. Jika segala sesuatunya terasa begitu membuncah, menyesakkan dadaku, maka kalimat “andalan” tadi selalu meluncur dari bibirku dan (biasanya) dijawab dengan kalimat andalan suamiku. “Sabar, Bu…”

Aku sendiri dibesarkan oleh ibu yang juga bekerja, dan kebetulan berprofesi sama sebagai guru. Rasanya dulu ibuku tak sedilema aku, seingatku dulu aku baik-baik saja. Selain banyak yang mengasuhku, ada kakak-kakakku dan pengasuh, bahkan aku bayi konon sering pula disusui budheku. Tapi ternyata itu hanya perasaanku saja. Ibuku bilang, meskipun situasi ibuku dulu saat membesarkanku lebih baik dariku, dilema seperti itu pun acapkali muncul. Sehingga, kala aku curhat ke ibu, soal persoalanku, Ibu selalu bilang, “Semua pasti berlalu dan pasti ada jalan keluarnya. Sabarlah….”

Baik suamiku maupun ibuku memang selalu mendorongku untuk bersikap optimis dan selalu percaya bahwa badai pasti berlalu. Inilah yang kemudian pada akhirnya menyurutkan kegalauanku dan menyurutkan keinginanku untuk berhenti mengajar. Meski kemudian galau itu muncul kembali, surut kembali, dan seterusnya seperti musim yang bergantian datang.

Memang, seringkali aku sanggup menjalankan kedua tugasku sekaligus, sebagai ibu dan sebagai working mom. Seringkali ada kemudahan yang diberikan olehNya, walau ada juga kerikil dan pengorbanan yang harus aku lakukan. Seperti saat dulu anak ke-2 sakit, demam selama beberapa hari dan setelah cek darah ternyata trombositnya di bawah normal. Di saat yang bersamaan aku harus mengikuti Diklat Penulisan Buku Teks dan Nonteks Pelajaran yang penyelenggaranya dari Puskurbuk bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi. Jujur, aku sempat galau bin bingung, ikut diklat atau tidak. Begitu pula suamiku turut galau dia, antara ambil cuti menggantikan posisiku menunggui anak, atau tidak. Dia sendiri sedang disibukkan oleh kondisi pabrik yang membuat suamiku kesulitan untuk mengambil cuti. Untunglah, saat aku konfirmasi ke salah satu staf Dinas Pendidikan Provinsi, ternyata tempat diklat di hotel yang tak jauh dari rumah, sekitar 8 km jaraknya. Saat itu aku putuskan untuk menerima tugas mengikuti diklat, tapi tidak menginap di hotel dan menyampaikan ke suami untuk tak memaksakan mengambil cuti kalau tidak memungkinkan. Syukurlah pihak panitia dari Puskurbuk sendiri saat itu, ketika aku ceritakan kondisi anakku, mau mengerti jika pada jam tertentu aku ijin untuk membawa anakku ke laboraturium medis dan tidak menginap di hotel.

Hari pertama, sebelum check in, aku sempatkan dulu untuk kontrol ke dokter spesialis anak langgananku dan kuceritakan kondisiku. Awalnya dokter meminta anakku dirawat inap, tapi akhirnya beliau mengijinkan anakku rawat jalan dengan catatan setiap hari aku harus bawa anakku ke lab untuk cek darah, melaporkan hasil lab via telpon ke dokter, dan memastikan anakku cukup cairan dan istirahat. Oke, aku sanggupi.

Jadilah aku bolak-balik antara rumah – hotel – rumah – lab – hotel – rumah. Aku lakoni dua hari pola seperti ini. Hari ke-3 diklat, kebetulan si sulung libur karena ruang kelasnya dipakai untuk ujian sekolah kls VI. Muncul ide, kenapa tidak sekalian mengajak si sulung dan adiknya yang sakit ikut menginap di hotel? Selain aku tak terlalu lelah bolak-balik, lokasi lab medisnya pun lebih dekat dari hotel dibandingkan dari rumah, dan aku lebih bisa mengontrol anakku. Kebetulan pula teman sekamarku hijrah ke kamar lain, menemani temannya yang tidur sendirian karena banyak peserta diklat, selain aku, yang memilih tidak menginap. Panitia pun tidak keberatan, dan aku cukup tahu diri untuk soal “konsumsi” anak-anakku tentu aku beli sendiri di luar.

Itu kisah anak ke-2, sekitar 2 tahun lalu. Tapi, kemarin….huhuhuhuhuhuhu….pagi-pagi aku berangkat ngajar sambil menangis sepanjang perjalanan. Anak bungsuku, sakit. Kegalauan yang sama kembali muncul. Kalimat andalan pun sempat terucap (lagi) di depan suamiku. Si bungsu tumbuh gigi gerahamnya, tak mau makan hanya mau menyusu dan minum selama beberapa hari. Sabtu siang, dia muntah-muntah. Sorenya, diare dan mulai demam. Aku bawa ke tenaga medis terdekat malamnya, ke bidan, belum juga membaik hingga hari Senin. Senin sore, aku bawa ke spesialis anak. Mendingan, karena ternyata memang obat mencret dari bidan seharusnya tidak lagi diberikan pada bayi, karena justru berefek kurang baik bagi kondisi ususnya.

Kondisi tubuh yang lemas, gusi yang cenat cenut, membuat si bungsu luar biasa rewel. Tak mau diajak siapapun, maunya sama ibunya, aku. Terpaksa Senin pagi aku minta ijin tak masuk, dan menitip tugas untuk anak-anak di kelas. Selasa, rewelnya masih belum berkurang, tapi untunglah hari itu aku tak ada jadual mengajar. Rabu… aku sungkan untuk ijin lagi…sementara si kecil masih lemas dan rewel (meski sudah lebih baik kondisinya). Ibuku bilang, “Berangkat aja, kalau nggak enak.”

Berangkat terlambat, karena belum juga mesin motor aku nyalakan, si bungsu sudah nangis. Tak tega sebenarnya melihat dia menangis seperti itu. Tapi mau tak mau aku berangkat juga, meskipun sambil menangis di perjalanan…..

Baru saja sampai di sekolah, masuk ke lab untuk praktikum, ibuku sms, dede nangis aja dari tadi. Ugghhh….rasanya…… Aku bingung. Anak-anak baru saja mulai kegiatan praktikum. Aku putuskan untuk tetap mendampingi praktikum, dan bilang pada ibuku aku pulang sesegera mungkin usai praktikum. Jadilah hari itu aku kembali ijin, meski setengah hari. Pulang dengan memacu motorku kencang, meski menggilas jalanan rusak. Sebodo amat motorku terguncang-guncang tak jelas, dan badanku seperti dibanting-banting. Pikiranku hanya satu, si bungsu.

Begitulah ketika realita pada akhirnya membuatku tak sempurna menjadi ibu untuk anak-anakku, juga membuat tak profesional pada pekerjaanku. Aku hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dengan kondisiku saat ini. Menjadi seorang ibu yang bekerja yang seringkali dihantui dilema….

Iklan