Tag

, ,

“Pulang kerja, kok, malah mampir-mampir! Bukannya langsung pulang!”

Kalimat ini pernah ditujukan seseorang padaku, tidak persis sama secara tekstual, tetapi kurang lebih seperti itu. Tentunya dengan nada yang lumayan pedas, gara-gara aku yang sesekali mampir sepulang mengajar ke tempat teman sekedar untuk “meluruskan” badan yang terasa penat.

“Kok, sempat-sempatnya menulis, sih? Aku yang anaknya nggak sebanyak kamu, aja, kayaknya repot banget mengurus ini itu, mana ada waktu untuk menulis…”

267

photo by HestiEdityo

Kalimat semacam ini juga sering dialamatkan padaku, hanya kali ini tanpa nada pedas. Lebih sering dengan nada keheranan melihatku yang masih sempat menulis. Sebenarnya, sih, disempat-sempatkan….

Sama sepertiku, seseorang pernah pula keheranan dengan ibuku, yang tetap pergi mengantar anak didiknya berlomba ke Semarang. Sementara, bapakku di rumah terbaring karena stroke yang menyerangnya.

Bagi sebagian orang, apa yang aku lakukan atau ibuku lakukan mungkin dianggap sebagai suatu hal yang egois dan sok sibuk. Ya, karena mereka tak tahu alasan di baliknya. Atau, mereka belum pernah berada pada posisi dimana seorang istri, seorang ibu, yang notabene dipenuhi segala macam tanggung jawab, tetap memerlukan me time.

Baiklah, aku mulai dari cerita tentang ibuku.

Bapak terserang stroke. Bisa dikatakan peristiwa itu menjadi titik balik untuk kami, Ibu, Bapak, dan anak-anaknya. Namun, tetap saja yang mengalami perubahan aktivitas paling drastis adalah Ibu. Aktivitas Ibu sebagai ibu rumah tangga dan seorang guru, kali ini ditambah dengan mengurus Bapak yang terbaring di tempat tidur akibat stroke yang melumpuhkan satu sisi kaki dan tangannya.

Awalnya, Ibu yang belum terbiasa dengan situasi itu, sempat kebingungan mengatur waktu. Apalagi setelah Bapak pensiun, seringkali Bapaklah  yang mengantar Ibu beraktivitas di luar rumah dan kali ini mau tak mau Ibu pergi sendiri. Kelelahan fisik dan psikis akhirnya dirasakan Ibu, yang pada ujungnya berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Seorang dokter kemudian memberikan sebuah advis.

“Ibu seharusnya tetap beraktivitas seperti biasa, melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk Ibu sendiri. Merawat Bapak, bukan berarti harus 24 jam Ibu ada di samping Bapak, tapi dengan kualitas fisik dan psikis yang buruk. Tetaplah luangkan waktu untuk diri sendiri, sesekali bepergian tak ada salahnya. Perlu, lho, untuk me-recharge kondisi diri sendiri agar tetap prima merawat Bapak. Melakukan hal seperti itu bukan sebuah keegoisan, lebih egois saat memaksa untuk tetap di samping Bapak tapi hati penuh dengan rasa kesal akibat kelelahan. Merawat orang sakit, butuh kesabaran ekstra. Kesabaran lebih mudah muncul pada kondisi fisik dan psikis yang optimal.” urai dokter panjang lebar kala itu.

Nasehat dokter yang akhirnya dipraktekkan Ibu dan membuat Ibu lebih enjoy merawat Bapak. Bagi Ibu yang terpenting, meskipun ada di mana saatnya Ibu harus berjauhan dengan Bapak, tidak ada pikiran untuk menyia-nyiakan Bapak. Aku tahu, Ibu tetaplah istri yang berbakti pada suami. Seperti halnya Bapak, yang di mata Ibu adalah suami hebat yang tak tergantikan.

Rieny Hassan, seorang psikolog terkenal pun menyarankan hal serupa melalui rubrik psikologi di sebuah tabloid wanita. Kala itu aku memang sempat curhat via surat pada beliau, dan ternyata dimuat di tabloid tersebut.

Ceritanya, dulu saat anakku baru satu, aku selalu membawa serta anakku kala hang out dengan teman-temanku. Maklum, new Mom. Saat itupun aktivitas mengajarku belum padat, statusku masih guru honorer, suamiku masih bekerja di Cilegon. Di rumah, selain ada yang membantu mengurus rumah, ada pula adikku yang turut mengasuh anakku. Singkat kata, kondisi “aman terkendali”. Situasi berbeda mulai kurasakan pascakelahiran anak kedua, seperti yang pernah aku singgung. Mengalami baby blues serius alias postpartum depression, pembantu sempat minta berhenti, adikku pulang ke rumah Ibu untuk membantu merawat Bapak, suamiku sempat jobless pula. Saat menceritakan masalah yang tengah menderaku itulah, Rieny Hassan menasihatiku untuk menekuni apapun yang menjadi hobiku dan melakukan aktivitas yang bisa menstimulus perasaanku. Sebagai psikolog hebat, beliau dengan tepat bisa menebak bahwa aku adalah tipe orang yang “doyan cerita” entah secara verbal atau tulisan. Beliau bilang, susunan kata dan pemilihan diksi yang aku gunakan dalam surat yang aku tulis menunjukkan hal tersebut.

Oke, aku teringat lagi dengan kebiasaanku semasa gadis. Bercerita melalui buku harian. Kebiasaan ini mulai aku tinggalkan sejak menikah dan punya anak. Ternyata tanpa disadari, aku kehilangan “me time” karena hal ini. Dari situ, aku mulai melakukan lagi aktivitas menulis. Saat mengenal facebook, curhat a la diary aku pindahkan ke sana, kemudian berlanjut ke dunia blogging.

Bagiku, untuk menumbuhkan rasa semangat saat diri terpuruk tak selalu harus dengan cara mahal. Selain dengan menulis, ya, seperti yang aku tulis di awal, sekedar mampir dan numpang meluruskan badan di rumah teman. Atau sesekali aku ngebakso bareng bersama teman, bahkan “nongkrong” sendirian di toko buku. Biasanya ini dilakukan saat aku pulang mengajar dengan kondisi otak dan tubuh penat. Daripada begitu pulang ke rumah, melihat anak-anakku rewel karena ditinggal ibunya seharian, kemudian aku emosi karena kepenatan tadi. Bukankah lebih baik aku cooling down dulu? Bagaimanapun me time dibutuhkan agar kita tetap menjadi diri sendiri diantara kesibukan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi.

“Kenapa nggak ajak anak-anak? Sekalian pergi sekeluarga!”

Argumen seperti ini pernah dicetuskan padaku. Lha, aku sudah bilang, aku butuh waktu untuk menjadi diri sendiri. Bukan sebagai ibu, bukan sebagai istri. Tak perlu waktu yang lama, hanya sekitar 1 – 2 jam cukup bagiku. Asal tahu saja, untuk me time, kadang aku juga sesekali mengajak salah satu anakku (hanya salah satu) untuk sekedar ngobrol selayak teman sambil makan di luaran. Biasanya, sih, aku melakukannya dengan si sulung yang memang sudah mulai beranjak remaja. Pernah pula bersama suami, tapi jarang banget, karena biasanya kalau sudah dengan suami, ya, sepaket dengan anak-anak. Sekeluarga. Akhirnya, bukan me time lagi, dong, tapi family time, hehehhe. Betul, sama-sama bertujuan me-refresh tubuh dan pikiran. Namun bukan itu yang kumaksud. Sekali lagi, waktu untuk (sejenak saja) menjadi diri sendiri, sebagai pribadiku sendiri. Namanya saja, me time. So, only me!

Bukan begitu? 🙂

Iklan