Tag

, , , ,

Berawal dari status mbak Annisa Fitri Rangkuti soal kehidupan perkawinan, dimana saya sempat berkomentar soal kehidupan perkawinan saya yang melalui banyak kisah. Muncul ide untuk menuliskannya, ya, katakanlah untuk menjadikan semacam prasasti bahwa perjalanan kehidupan banyak lika-likunya. Ups and downs.

perjalanan kehidupan (dok. pribadi)

perjalanan kehidupan (dok. pribadi)

Tinggal berdua di rumah sederhana tipe 36, yang dicicil suami sejak sebelum menikah, hanya ada beberapa perabotan yang kami miliki. Itupun sebagian besar adalah kado perkawinan, dan beberapa barang elektronik yang dibeli suami sejak bujangan. Nah, soal barang elektronik ini ada beberapa cerita yang meski “pahit” tapi manis dikenang, setidaknya membuat saya nyengir sendiri saat mengingatnya.

Salah satunya soal VCD player. Suami membelinya jauh sebelum menikah, saat VCD player sedang booming. Barang satu ini nangkring dengan manisnya di atas lemari hias/bufet kecil di ruang tamu kami, di sebelah radio tape. Bener-bener hanya nangkring, tanpa pernah dipakai. Gimana mau pakai, TV-nya nggak ada! Kok, bisa? Ya, bisa! Barang satu itu dibeli saat suami masih tinggal di rumah kakaknya. Berhubung di rumah sang kakak ada TV, saat beli VCD player suami nggak kepikiran buat beli TV sekalian. Begitu pindah ke rumah sendiri….baru nyadar, kita nggak punya TV! Oya, saat itu saya lagi ngefans  banget sama kuis “Siapa Berani” yang dipandu Helmi Yahya dan Alya Rohali. Berhubung nggak ada TV pula, dan malu kalau terus-terusan nebeng  nonton di tetangga, kadangkala saya “nguping” via tembok yang berdempet dengan rumah tetangga sebelah, lumayanlah setidaknya bisa dengar sedikit keriuhan kuisnya.

Lain lagi soal kisah yang berhubungan dengan pembantu alias khadimat. Bukan masalah personal pembantunya, tapi soal perbandingan gaji saya dan gaji pembantu. Saya mulai memakai jasa pembantu sejak punya anak pertama. Saat itu saya menjadi guru honorer di sebuah SMA negeri yang letaknya tak jauh dari rumah dengan gaji Rp. 140 ribu rupiah per bulan. Ya, gaji guru honorer memang tak seberapa, karena dibayar menurut jumlah jam mengajar yang menjadi bebannya (bukan jumlah jam tatap muka). Sedangkan gaji pembantu saya kala itu 10 ribu lebih tinggi. Suami saya sampai sempat berseloroh, “Si Iis yang nggak lulus SD aja gajinya lebih tinggi dari Ibu yang jelas-jelas sarjana!”  Bos sama pekerja malah gedean gaji pekerjanya! Hahahahaha…ya, begitulah hidup. Nggak menarik kalau nggak “merangkak” dari bawah!

Saat mulai punya anak, semakin banyak kisah yang mengharu biru *lebay*. Benar-benar life is never flat! Pernah anak pertama saya sakit diare hebat + thypus. Sakit yang datang tanpa kompromi, karena datang saat “tanggal tua”, dan anakku harus dirawat inap. Uang di kantong hanya ada 100 ribu, tabungan tinggal saldo minimum. Ngenes, di rumah sakit semua ruangan kelas 2 penuh. Padahal jatah ASKES dari saya sebagai PNS golongan 3, ya, kelas 2. Jika ambil kelas yang lebih bagus ada “charge” yang harus dibayar. Okelah, kalau hanya “naik” sedikit, ambil yang kelas 1, tak terlalu banyak nomboknya. Masalahnya, saat itu kami sudah berkeliling ke semua ruangan dan yang kosong hanya kelas VIP dan pavilliun! Sementara ayahnya kala itu hanya karyawan dengan status kontrak yang tak punya jatah kesehatan untuk anggota keluarga. Kami berdua -saya dan suami- hanya bisa tergugu, menangis berdua di UGD karena anak saya tak kunjung dapat kamar. Saat itu saya tengah hamil tua anak ke-2 pula…

my boys (dok. pribadi)

my boys (dok. pribadi)

Akhirnya, nekat saya telpon Ibu. Pinjam perhiasan emasnya. Kasih ibu memang sepanjang jalan, begitu mendengar cucunya sakit dan dirawat, beliau segera menyuruh adik saya untuk segera berangkat ke Serang dan bawa kalung emas untuk digadaikan. Begitu ada “pegangan”, saya baru berani ambil keputusan, cari kamar kosong segera meskipun harus kena charge. Eh, kabar baik beruntun datang. Saat hendak konfirmasi ke bagian informasi, ternyata ada kamar kosong di kelas 2 karena baru saja ada pasien yang sudah bisa pulang. Syukurlah, kami tak jadi cari kamar di kelas lain. Kalung emas yang dibawa adik tetap saya gadaikan, meski bukan untuk membayar biaya rawat inap anak pertama saya lagi, tapi untuk biaya melahirkan.

Usai si sulung sembuh dari sakitnya, ada lagi hempasan badai dan terjangan ombak melanda *halaahh*. Ceritanya, di tahun 2006, perusahaan tempat suami bekerja selama belasan tahun mulai kolaps. Ada dua opsi yang ditawarkan, resign dengan pesangon lumayan, atau dioper ke perusahaan lain (semacam perusahaan rekanan tetapi skalanya lebih kecil). Suami memilih opsi pertama. Bukan tanpa pertimbangan matang, kenapa memilih opsi pertama. Jauh hari sebelum memutuskan resign, suami sudah melamar kerja di tempat lain dan diterima dengan status karyawan kontrak. Uang pesangon ini sebagian kami gunakan untuk merenovasi rumah, tepatnya sih, menambah ruangan. Sisanya diinvestasikan dalam bentuk barang (kendaraan) dan tanah. Ada pula yang disimpan di tabungan meski jumlahnya tak banyak.Nah, uang tabungan yang sedianya untuk persiapan kelahiran anak ke-2 ini, suatu waktu dipinjam saudara. Jumlahnya lumayan menurut ukuran kami kala itu. Oke, kami pinjamkan dengan syarat sebelum perkiraan melahirkan uang sudah kembali. Tapi sayang seribu sayang, hingga hari-H, bahkan hingga saat ini, Alhamdulillah uang itu belum kembali J. Bahkan saat si sulung di rumah sakit dan kami sempat menagih, jawabnya, “aduuhhh…maaf kemarin ada uang tapi sudah dipakai…”. Ya, sudahlah, mau apa lagi. Untung Allah Maha Penyayang, ada pinjaman kalung dari Ibu dan tak lama kemudian uang Jamsostek dari perusahaan lama sudah bisa dicairkan. Selesaikah ujiannya? Belum.

Usai anak ke-2 lahir (sekitar dua mingguan), suami kehilangan pekerjaan untuk ke-2 kalinya. Kontraknya tidak diperpanjang karena suatu sebab. Kali ini berbeda cerita dengan sebelumnya, karena tak ada ganti pekerjaan di tempat lain. Lamaran yang dikirim belum ada respon satupun. Saya pun merasakan seperti apa rasanya menjadi pencari nafkah tunggal, dan betapa beratnya menjaga perasaan suami yang jobless. Itulah sebabnya, mengapa saya begitu salut kepada para teman perempuan saya yang sanggup bertukar peran dengan suami dan menjadikan suami sebagai Stay At Home Dad. Terlepas dengan kewajiban seorang lelaki untuk menafkahi keluarga, sungguh tak mudah berada dalam posisi itu. Apalagi para suami tersebut, seperti halnya suami saya saat itu, dipaksakan untuk berada dalam kondisi seperti itu meskipun mereka terus berusaha memenuhi kewajibannya. Secara teori, memang mudah mengatakan, usaha, dong, cari kerja, dong! Faktanya? Tak semudah membalikkan telapak tangan dan hidup memang tak selalu berpihak pada apa yang kita inginkan.

Situasi ini memang tak lama saya alami. Hanya sekitar 3 bulanan. Tetapi dalam waktu 3 bulan itu, ada banyak pelajaran dan kisah yang bisa diambil dan dikenang. Sejak awal menikah, suami sudah wanti-wanti, “Jangan merepotkan orang tua, jangan sampai orang tua tahu susahnya kita. Biar saja mereka hanya tahu senangnya kita.” Jadi, saat suami jobless saya menyimpan rapat-rapat kondisi ini, orang tua tak tahu menahu saat itu. Saat Ibu datang dan menginap dalam rangka nengok cucu barunya, terpaksalah kami bersandiwara demi “rahasia perusahaan”. Selama ada Ibu, setiap pagi suami “berangkat” dan menjelang sore “pulang”. Kemana suami pergi? Ke rumah temannya, salah satunya adalah seorang teman yang baru dikenal saat menjadi debt collector.

Ya, menjadi debt collector sebuah perusahaan leasing, sebuah pekerjaan yang sempat dilakoni suami selama seminggu. Saking ingin menunjukkan rasa tanggung jawab untuk keluarga dan tak nyaman karena menganggur, dia terima pekerjaan itu. Pekerjaan yang “nggak banget” untuk suami saya yang tipenya tak tegaan. Resiko dan gaji yang dijanjikan sangat tidak sepadan. Dengan gaji hanya beberapa ratus ribu, uang bensin sekedarnya, berpeluh keringat dan melegam matahari suami menjelajah pelosok demi pelosok dengan sepeda motor. Sungguh, tak tega rasanya, dan diam-diam sering saya menangis sesunggukan sendiri melihatnya. Untunglah, akhirnya suami melepasnya, meski dengan konsekuensi kembali menjadi “bapak rumah tangga”. Saat itu saya pikir, daripada nombok uang bensin melulu, toh, gaji saya sebagai PNS cukup buat makan. Ditambah masih ada tabungan dari dana Jamsostek dan hasil menjual mobil kami saat itu. Sungguh tahun terberat dalam perjalanan hidup kami. Sampai-sampai saya sempat terserang depresi post partum akibat cemas berlebihan usai melahirkan, yang membuat saya paranoid, phobia dengan hal-hal yang sebelumnya tak pernah saya takuti. Tapi, sekali lagi, ada hikmah dibalik peristiwa. Gara-gara kondisi psikis yang sempat down, justru jalinan komunikasi antara saya dan suami semakin kuat. Hal-hal yang sebelumnya seringkali sungkan diungkapkan, pada akhirnya bisa dibicarakan, bisa saling mendengarkan satu sama lain.

Satu hal yang sungguh saya percaya, “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Itulah yang selalu terjadi, dan terjadi. Saat semua kesulitan bisa kami lalui, ada kemudahan yang kemudian kami dapatkan. Perlahan tapi pasti, kehidupan yang dibangun dengan merangkak dan sedikit tertatih bisa kami genggam. Ah, nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

Iklan