Tag

,

Jodoh Bukan Soal Rupa!

 my wedd 2

“Lelaki itu lebih suka cewek berkulit putih, wangi, dan nggak kucel!” Ucap kakak saya sekitar dua puluhan tahun yang lalu. Sore itu, saya yang masih duduk di kelas 1 SMP, pulang ke rumah dengan tubuh penuh keringat dan kulit semakin “gosong”. Penampilan saya yang kerap acak-acakan ditambah kulit yang sawo matang seringkali diprotes kakak. Kulit saya sendiri memang ditakdirkan lebih gelap dibandingkan kakak-kakak dan adik saya yang dari sononya berkulit kuning langsat.

Pernah pula teman satu kost saya bilang, “Sabar, aja, ya, pasti suatu saat ada lagi cowok yang suka sama kamu!”. Kalimat ini diucapkan dengan nada sedikit meremehkan karena dia sendiri memang berparas cantik dan berkulit terang. Wedew….meskipun saya saat itu satu-satunya jomblo di tempat kost, bukan berarti saya merasa sebagai orang yang paling menderita dan meratapi ke-jomblo-an saya. Saya selalu percaya akan jodoh saya, bahkan sejak SMA saya bercita-cita menikah di tahun 2000. Mengapa 2000? Karena angka ini unik menurut saya, dan di tahun itu usia saya layak untuk menikah, meskipun sampai menjelang penghujung tahun 1999 status saya masih jomblo happy!

Stigma perempuan berkulit putih lebih menarik daripada berkulit gelap memang sudah mengakar kuat dalam benak kebanyakan orang. Tapi faktanya, lelaki tidak selalu tertarik pada perempuan dengan kriteria seperti itu. Buktinya, dalam perjalanan masa remaja saya ada beberapa lelaki yang menyatakan cinta. Atau barangkali mereka tidak bisa membedakan kulit berwarna terang dan gelap? Entahlah….

Sempat pula saya berpacaran, cukup lama hingga hitungan sekian tahun sebelum akhirnya kandas dan (sempat) patah hati. Untuk ini justru saya berterima kasih… Kok? Karena patah hati, saya semakin khusyu berdoa, “Ya, Allah, dekatkan dan pertemukan saya dengan jodoh saya!”. Bukankah doa orang yang “teraniaya” itu lebih diijabah? Hehehehe….

Di trimester akhir tahun 1999, sepucuk surat datang untuk saya melalui alamat kampus. Dari seorang lelaki, yang wajahnya pun tak saya kenal seperti apa, meskipun dia tetangga dekat nenek saya. Surat yang berisi perkenalan disertai sedikit rayuan yang anehnya bukan membuat saya tersipu, tetapi membuat saya terkikik geli di lobi kampus. Setelah beberapa kali berbalas surat dan bertukar foto, sekitar November 1999 sepucuk surat pinangan itu datang. Saya kaget, secepat itu? Bahkan kami belum saling bertemu? Hanya saling mengenal lewat rangkaian kata di kertas dan bertatap mata pada selembar foto saja?

Tak langsung saya iyakan, saya meminta untuk bertemu dulu. Kami pun mengatur waktu untuk pulang dan bertemu. Saya, yang saat itu masih menuntut ilmu di Semarang dan (calon)suami yang tinggal dan bekerja di Cilegon, sepakat untuk bertemu awal Desember sebelum saya mengikuti ujian semester gasal. Sejak surat pinangan itu saya terima hingga pertemuan pertama terjadi, saya terus bertanya di tengah malam buta pada Yang Maha Tahu, diakah jodoh saya? Saya pun temukan jawabnya.

Pertemuan pertama sempat membuat satu sama lain terkejut. Lho…kok orangnya ternyata begini, ya? Nggak sejangkung bayanganku?. Batin saya, sembari mengingat-ingat foto yang dia kirimkan. Ya, mana tahu saya dia sejangkung apa, bukankah foto yang dikirimkan dalam pose duduk? Ternyata penampilan saya saat pertemuan pertama itupun sempat membuat suami shock. Sungguh jauh berbeda dengan gaya saya di foto yang terlihat feminin…. Dia kaget kenapa yang keluar menemuinya justru gadis berpenampilan preman, bercelana Adidas dan berambut cepak, bukan gadis berambut blow a la Dora dengan rok dan blazer seperti dalam foto. Saya pun mengaku, penampilan dalam foto itu kebetulan saja karena sedang menghadiri pesta pernikahan sepupu, nggak mungkin banget ke pesta berpenampilan a la preman ‘kan? Hehehehe….

Tapi, meskipun begitu pinangan yang sebelumnya disampaikan lewat surat tidak ditarik mundur. Tetap lanjut, dan ajaibnya saya pun mengiyakan tanpa ragu. Mungkin ini yang betul-betul dibilang, jodoh di tangan Tuhan. Lamaran resmi dilakukan tepat di hari raya Idul Adha, Maret 2000. Keinginan saya betul-betul terwujud, tepat pada 5 September 2000, di masjid depan rumah, berkebaya brokat putih, saya menikah. Pernikahan yang beberapa bulan sebelumnya hanya sebuah mimpi, mimpi yang pada akhirnya menjadi kenyataan.

collage

Teringatlah pula saya pada ucapan seorang teman, di tahun 1998, saat saya merasakan pedihnya patah hati. Siapa jodohmu, pada saatnya kamu akan tahu. Percayalah siapa yang menjadi jodoh kita itulah yang terbaik. Terbaik menurutNya, karena Dia yang Maha Tahu. Jodoh itu sebuah keajaiban yang seringkali mengejutkan. Begitu mengejutkannya bahkan bisa saja seseorang yang nampaknya tidak mungkin menjadi jodohmu, justru dialah jodohmu.

Jodoh nyatanya bukan soal rupa, siapa yang rupawan dialah yang lebih dulu bertemu jodohnya. Tidak… Tapi soal rahasia Ilahi akan waktu, Dialah Maha Pengatur Waktu.

 

Iklan