Mimpi adalah kunci 
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Seperti yang dikatakan Nidji, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia…. Bagiku bukan seberapa besar mimpimu yang terpenting, tetapi seberapa besar kita mewujudkan mimpi kita. Mimpi yang terus terpatri, hingga kemudian mimpi ini selaksa doa yang terus terhembus dalam relung jiwa.

Warna-warni mimpi (photo by Ajie Nugroho)

Dalam perjalanan hidupku, banyak mimpi-mimpi yang menghiasi. Mimpi-mimpi yang indah. Semakin indah manakala mimpi itu terwujud di kemudian hari. Satu mimpiku yang berkesan adalah tentang pernikahan. Ya, pernikahanku, yang aku impikan sejak duduk di bangku SMP.

Saat itu, entah apa sebabnya, aku sangat ingin menikah di tahun 2000, mungkin karena angkanya yang menurutku unik ya… Dan aku pun selalu bermimpi, kelak akan menikah dengan mengenakan brokat putih  di sebuah masjid. Mimpi itu terus terpatri, meski di tahun 1999, dimana tahun 2000 tinggal sepenggalan lagi, aku justru tak punya seorang kekasih. Entahlah, tetap saja dengan pedenya aku bilang, tahun depan aku menikah dan berkebaya brokat putih! 😀

Tapi… inilah keajaiban sebuah mimpi, mimpi yang begitu merasuk ke relung hati hingga terapal bagai doa-doa dalam setiap hitungan waktu. Di penghujung tahun, Desember 1999, seorang lelaki datang di depanku dan berucap, “aku cari istri, dek….”. Sembilan bulan kemudian, mimpiku pun terwujud. Menikah di tahun 2000, berkebaya brokat putih di sebuah masjid, diiringi sedu sedan tangis haru Bapakku yang menikahkanku sendiri. Inilah bonus mimpiku, karena hanya aku, satu-satunya anak Bapak dari 6 anak perempuannya yang dinikahkan Bapak secara langsung. Bapakku sendiri yang memimpin ijab kabul, terbata berucap, “Saya nikahkan anak saya….”. Thank you so much, Bapak. It’s a lovely moment, miss you so….

Siapa nyana? Aku yang saat itu satu-satunya “jomblo” di kost-ku, justru lebih dulu menyebarkan undangan pernikahan. Bahkan, saat suamiku melamarku, Bapak pun masih keberatan jika pernikahan dilakukan sebelum aku lulus kuliah. Toh, kekuatan mimpi itu meluluhkan hati Bapak,usai aku berjanji, aku tetap menyelesaikan kuliahku meski aku telah menikah.

Mungkin mimpiku ini bukanlah mimpi besar bagi orang lain. Tapi aku tak peduli, karena bagiku, seberapa besar mimpi itu berusaha kita raih. Seberapa besar dia terus terpatri dalam hati, seberapa besar kekuatan doa-doa kita.

Dan…teruslah bermimpi… Karena mimpi membuat kita nyata dalam kehidupan. Karena mimpi membuat jiwa kita tak hampa. Karena mimpi membuat kita memiliki arah dan tujuan.

Janganlah berhenti bermimpi. Meski tak semua mimpi berakhir indah. Jangan salahkan mimpimu, manakala mimpi itu kemudian berakhir duka. Percayalah, mimpi terburuk yang terjadi untuk kita adalah sebuah awal baru untuk kita kembali melangkah meraih mimpi yang jauh lebih indah…

Sebuah kado pernikahan, meski sedikit terlambat… 🙂

Iklan