Tag

, , , ,

By : Hesti Edityo dan Michael Sendow

Ruminah menatap hasil ujiannya dengan perasaan tak karuan. Bukan karena nilai-nilai yang tertera di sana tak memuaskan. Bukan! Nilai-nilainya sangat baik, meski bukan yang terbaik. Nilai-nilai yang ia peroleh dengan cara jujur, bukan dengan cara menyalin kunci jawaban yang dibeli dengan harga tertentu seperti yang dilakukan sebagian teman-temannya. Ruminah sangat bangga karenanya. Dibalik kebanggannya ada perasaan lain yang bersemayam di hatinya. Keinginan Ruminah untuk melanjutkan pendidikannya sepertinya harus tertunda. Ruminah sedih, mata Ruminah basah, hatinya gundah. Ia ingat percakapan dengan Simbok semalam.

Nduk, Simbok tahu kamu ingin sekali menggapai cita-citamu. Simbok bangga punya anak sepertimu, pinter, rajin. Simbok juga pasti bangga jika suatu hari kelak kamu bisa menjadi seseorang seperti yang kamu inginkan. Tapi, Nduk, Simbok minta maaf, Simbok tidak bisa membiayai sekolahmu ke jenjang yang lebih tinggi….”

Ruminah paham persoalan yang dihadapi Simbok. Meski keinginan untuk meneruskan kuliah begitu kuat di lubuk hati Ruminah, ia tahu diri. Simboknya hanya seorang janda yang mbatur di rumah Bu Lurah, ditambah dari berjualan onde-onde yang dititipkan ke warung. Penghasilan Simbok tak seberapa. Ruminah tak bisa mengandalkan Simbok untuk membiayai kuliah. Dia harus berjuang sendiri untuk menggapai mimpinya itu.

“Kamu tahu, tho, Nduk, kalau Bu Lurah tak membantu kita, mungkin kamu nggak bisa sekolah SMA. Kita sudah hutang budi terlalu banyak sama Bu Lurah. Darno sebentar lagi masuk SMA, terus terang, meski Bu Lurah bersedia membantu sekolah Darno seperti yang dilakukan terhadapmu, Simbok nggak enak hati…” Lirih Simbok mengatakannya.

Ruminah berusaha menekan perasaannya. “Ya, Mbok, Rum ngerti. Biar Rum cari kerja. Biar Rum bantuin Simbok nyekolahin Darno….”

***

“Mbak Rum… ada telpon dari Lik Karjo!”

Santi, putri Bu Lurah datang tergopoh-gopoh ke rumah gedhek Ruminah.

“Aduh, Mbak Santi sampai ngos-ngosan gitu…” sambut Ruminah.

“Kata Lik Karjo penting, Mbak..makanya aku buru-buru kesini. Tadi katanya mau nelpon lagi… Ehhh… ini udah telpon lagi” Santi menyodorkan HP di tangannya yang berdering, tanda ada panggilan masuk.

“Assalamu alaikum, Lik… ini Rum..”

“Wa alaikum salam…Rum? Gimana kabarnya, sehat?”

“Alhamdulillah, Lik.. Lik Karjo gimana, sehat juga kan?”

“Sehat kok.  Begini, Rum. Kowe wis lulus SMA kan? Pengin kerja nggak?”

“Ya pengin, Lik..!”

“Begini, Rum. Lik Karjo diamanati Pak Santoso untuk mencari orang  untuk kerja di tempatnya. Lik Karjo kepikiran kamu, Rum…”

Ruminah tahu siapa Pak Santoso. Majikan Lik Karjo yang kaya raya pemilik beberapa restoran besar di Jakarta dan Bali. Ruminah pernah sekali bertemu, saat Pak Santoso datang ke kampungnya untuk menghadiri pernikahan Lik Karjo dengan adik Simbok, Lik Yati. Lik Karjo kerja sebagai sopir di rumah Pak Santoso sudah 15 tahun lebih, sejak masih bujangan sampai sekarang. Ia punya anak dua orang.

“Kerja apa, ya, Lik? Pelayan restoran?” tanya Ruminah penasaran.

“Bukan. Jadi pengasuh. Mbak Indah, putri Pak Santoso butuh pengasuh untuk anaknya tapi dia kapok cari baby sitter di agen, dua kali dapatnya orang nggak becus. Makanya, Mbak Indah minta Lik Karjo yang cari. Syaratnya, Lik Karjo kenal baik sama orangnya,  tahu piye wataknya.”

“Oh..” Ruminah manggut-manggut.”Mbak Indah tinggal serumah dengan Pak Santoso Lik?” tanyanya.

“Kalau sekarang iya, masih serumah sama orang tuanya. Tapi sebentar lagi pindah, Mbak Indah mau ngikut suaminya yang udah ditransfer kerja ke Amerika, sekalian Mbak Indah mau nerusin kuliah S2.”

“Pindah ke Amerika? Terus anaknya ditinggal di Jakarta dan aku jadi pengasuhnya, gitu?”

Terdengar tawa kecil Lik Karjo di telepon, “Anaknya dibawa, Rum… kowe sisan di bawa ke Amerika!”

“Hah?!”

***

Amerika? Tak terbayangkan sama sekali di benak Ruminah tentang negara itu. Selama ini Ruminah hanya tahu dari televisi, majalah, koran, atau buku. Seumur-umur pergi ke Jakarta saja Ruminah baru satu kali, saat study tour SMA. Apalagi ini, Amerika. Negara beda benua dan terpisah samudra.

“Wuiiihhhhh….. Amerika, Rum? Kapan berangkat?” seru Ratri, teman sekelasnya di SMA

“Hari Minggu besok aku dijemput Lik Karjo berangkat ke Jakarta, sementara waktu aku di sana dulu. Kalau semua urusan dan semua dokumen beres, baru ke Amerika dan kabarnya Visanya udah diapproved sama kedutaan. Lagian calon majikanku belum lama melahirkan, baru 2 atau 3 bulanan. Mbak Indah, calon majikanku itu juga pengin lihat dulu, gimana kerjaku. Cocok nggak, gitu…”

Kirain kamu langsung mabur ke Amerika….. Wah, aku bakalan kangen kamu, Rum… Jangan lupa sama aku, ya?”

Ruminah tersenyum tipis, dan menatap Ratri. “Ya, nggaklah. Kamu itu sahabatku yang paling baik. Oya, kamu jadi daftar ke Geologi, Tri?”

“Ya, jadi. Ah…coba ya, seandainya kita bisa kuliah bareng…kayaknya asyik, Rum. Kayak sekarang…” Mata Ratri menerawang.

“Ya…seandainya….” Ruminah menarik nafas panjang. “Doakan suatu saat aku bisa meraih mimpiku, Tri. Ini Cuma soal waktu, aku yakin!”

“Ya, Rum… kamu pasti bisa!” Ratri menggenggam tangan Ruminah, memberikan semangat untuknya.

***

Lik Karjo menjemput Ruminah sesuai janji. Mereka menggunakan bus malam, dan tiba di Jakarta pagi harinya. Rumah pak Santoso sangat luas. Ruminah diberi kamar sendiri, yang baginya lebih dari cukup. Sebuah tempat tidur yang jauh lebih bagus daripada tempat tidur di rumahnya, ada di kamar itu. Juga sepasang meja kursi dan sebuah lemari kayu.

Mbak Indah, Ruminah selalu memanggilnya dengan sebutan Ibu, adalah seorang perempuan muda yang ramah dan baik. Tutur katanya lembut dan santun, sama seperti Pak Santoso, ayahnya. Ruminah sangat terkesan atas perlakuan mereka. Selama di Jakarta, Mbak Indah mengajarinya banyak hal. Mulai dari cara merawat dan mengasuh Vio, putra Mbak Indah, sampai mengajari percakapan dalam bahasa Inggris. Mbak Indah juga mengijinkan Ruminah untuk meminjam koleksi buku-bukunya, begitu tahu Ruminah hobi membaca. Pendeknya, Ruminah tidak merasa diperlakukan seperti seorang budak di sana.

“Ini raport dan ijazahmu, Rum?” tunjuk Mbak Indah ke atas meja kamar Ruminah.

“Ya, Bu…” Ruminah mengangguk. Dia sengaja membawa serta beberapa dokumen penting yang dimilikinya, termasuk ijazah dan raport. Barangkali saja suatu saat diperlukan, begitu pikir Ruminah.

“Nilai-nilaimu bagus, Rum. Kamu pasti murid yang pintar di sekolah!” kata Mbak Indah sambil mengamati nilai-nilai yang tertulis di raport dan ijazah Ruminah. Nilai seseorang yang sungguh pintar. Nilai seseorang yang pernah menempati ranking dua umum di sekolahnya.

Ruminah hanya tersenyum malu. “Sayang sekali, kalau kamu tidak melanjutkan sekolah, Rum…”  Kata Mbak Indah dengan mimik muka serius.

Ruminah terdiam. Tak sanggup ia membalas tatapan mata Mbak Indah. Seakan air matanya mau jatuh kalau ia paksakan membalas kata-kata Mbak Indah. Ia sadar sepenuh-penuhnya kemiskinan yang melilit keluarganya. Ah, mimpi untuk melanjutkan sekolah kembali menari-nari dibenak Ruminah.

“Ibu pinjam sebentar raport dan ijazahmu, ya?”  Kata Mbak Indah sembari menepuk-nepuk bahu Ruminah. Mbak Indah keluar dari kamar Ruminah, sambil membawa raport dan ijazah Ruminah. Di kepala Mbak Indah ada sebuah rencana besar untuk Ruminah. bersambung….

Iklan