Matahari dari balik jendela (photo by Hesti)

Semilir angin menerpa wajahku. Sengaja jendela kubuka lebar-lebar, menghirup harumnya embun pagi. Matahari mengintip dari sela-sela jendela, mengurai sinarnya menghangatkan hari.

Pesan dari Deana kuterima semalam, sesaat setelah aku menerima pesan yang sungguh mengejutkanku. Dari Lintang!

“Sorry, Sas! Lintang memohon-mohon terus, aku nggak tega…!”

Aku menghela nafasku, mencoba menepis kegundahan hati. Sebagian jiwaku tersulut emosi, mengapa Deana tak menepati janjinya? Tapi, sebagian jiwaku tersulut rindu saat membaca pesan Lintang.

“Meski tlah jauh kemana…kau coba tuk sembunyi…”

Lintang menohokku! Pesan itu hanya berisi barisan syair, yang sialnya pagi ini justru ingin kudengar lagunya.

Mataku menerawang, menatap langit saat matahari perlahan naik. Mencari jawab atas pertanyaanku sendiri. Sampai kapan aku sembunyi? Tapi, aku tak sanggup menjelaskan semua pada mereka. Pada Deana, juga pada Lintang. Mereka pasti marah!

Matahari merambat naik (photo by Hesti)

“Kenapa, Sas? Kenapa kau menghindar dari Lintang? Sikapmu tak adil, kau pergi tanpa penjelasan apapun!”

Kalimat dalam pesan Deana dipenuhi kemarahan. Dan hatiku sakit! Bukan karena kemarahannya, tapi karena kenyataan yang tersirat dari kalimat itu, Deana masih menyimpan harap!

“Aku pergi merajut mimpiku, Dea!”

“Bukan! Kau lari darinya!”

Aku tersudut. Deana benar.Aku lari, aku sembunyi, dan kini penat merajai jiwaku. Sampai kapan? Sampai kapan aku terus berlari dan sembunyi? Sampai kapan?

Kupandangi langit. Mencari jawab. Tak ada apa-apa di sana. Terdiam, seperti aku yang terdiam dalam kebimbangan.

Langit pun diam (photo by Hesti)

Meski Tlah Jauh (Tribute To KLa)

Iklan