Tag

, , ,

Berjalan sendiri diantara keindahan Ohori Koen, mengingat pesan yang dikirim Deana semalam, “Dia masih merindukanmu…”.

Haahh! Kuputuskan duduk di bangku taman, menikmati sejuknya alam dan melepas tatap mataku ke arah danau. Burung-burung berterbangan, seakan tengah menari di pelataran langit. Langit yang nyaris bersih tanpa awan….

Entah mengapa aku tiba-tiba merindukan awan-awan menghias langit. Cirrus, cumulus, stratus, nimbus… Ah, sejujurnya aku masih saja bingung dengan awan-awan ini. Bagiku itu hanyalah seonggok awan yang menghiasi langit.

Seperti onggokan kenangan tentangnya, aku mencari lapisan awan di atas sana. Berharap menuturkan sebuah cerita tentang lelaki dan kisah dalam sekumpulan awan. Seperti yang sering dia ceritakan padaku dahulu.

“Apa yang kau lihat di atas sana, sih?!”

Dia tersenyum tanpa mengalihkan matanya pada selapis awan tipis di langit.

“Lihat, awan itu bercerita tentang seekor kodok yang menanti kecupan sang putri!”

sang kodok (photo by Hesti Edityo)

Aku hanya tertawa saat itu, “Tak ada kodok!”

“Tataplah dengan rasamu, bukan matamu!”

Aku tetap tak mengerti. Bagiku tetap sama.

“Lihat, di sana! Sayap indah sang kupu-kupu menari indah menyambut pagi!”

Khayalan lain darinya di suatu pagi. Membuatku berkerut kening.

sayap kupu-kupu (photo by Hesti Edityo)

Imaji yang hebat, meski tak ku pahami. Bahkan awan gelap kelabu menjelang senja baginya adalah sebuah rangkaian cerita. Meski bagiku, gelapnya sedikit menakutkan, tapi tidak untuknya.

kepakan elang (photo by Hesti Edityo)

“Kau tahu, mengapa elang begitu perkasa? Sayap-sayapnya kokoh, membawanya sanggup membumbung tinggi, melayang jauh melintasi langit. Lihat, bahkan langit pun menceritakan kepakan sang elang di atas sana. Dan aku selalu ingin seperti elang perkasa itu….”

Tak sadar aku kembali menatap langit. Berharap ada kisah yang diceritakan sang awan. Kosong. Langit tampak masih bersih, entah kemana awan-awan itu pergi.

“Oh, Dea…andai aku bisa mengabarkan rindu ini untuknya….”

Bulir bening mataku jatuh, seiring kuntum Sakura yang jatuh di depanku.

Tautan kisah lainnya :

Menjejak Hari

Hirosis

Iklan