Tag

,

Hirosis. Itu nama yang dipakainya di akun facebook miliknya. Awalnya aku tak tahu siapa pemilik akun itu, dia meng-add-ku tanpa menunjukkan siapa identitas asli di balik akun dan aku abaikan. Hingga kemudian dia mengirimiku pesan.

“Kenapa hirosis yang kau pakai?” tanyaku suatu waktu.

Hibiscus Rosa Sinensis….aku singkat jadi hirosis…”

(photo by Hesti Edityo)

“Apa itu?”

“Bunga sepatu!”

Oh! Baru aku mengerti mengapa begitu banyak foto bunga sepatu di facebooknya.

“Aneh! Biasanya lelaki lebih memilih binatang daripada kembang!”

Bukankah bunga identik dengan perempuan?

“Apanya yang aneh? Aku normal, kok! Hibiscus itu cantik!”

“Masih lebih cantik mawar!” Aku ngotot

“Mawar dan hibiscus sama cantiknya. Bedanya, mawar menebarkan aroma, hibiscus tidak.”

secantik mawar (foto by Hesti Edityo)

“Mawar lambang cinta!”

Hibiscus lambang kecantikan yang bersahaja! Justru karena keindahannya yang tanpa aroma itu, seperti perempuan yang terlihat anggun dalam kesederhanaan. Tanpa mengumbar wangi….”

“Jadi, kalau mawar terkesan sebagai tukang umbar keindahan?Murahan?”

“Tidak juga! Mawar ‘kan punya duri, artinya dia tetap menjaga dirinya. Itulah mengapa banyak orang menganggap mawar sebagai lambang cinta. Cinta yang indah namun tetap terjaga, begitu filosofinya.”

“Sejak kapan kau jadi filsuf kembang?” ledekku, yang membuatnya tergelak jauh di ujung sana, ratusan kilometer dari tempatku. Aku masih merasa aneh. Sejak kapan dia menyukai kembang?

“Kalau kau pulkam nanti, aku ajak kau ke kebun hibiscusku!” tukasnya sebelum menutup telepon.

***

Aku terpana, benar-benar luar biasa! Hamparan bunga sepatu berwarna-warni, beraneka rupa terjajar rapi dan artistik di kebun mungilnya. Ya, harus aku akui, hibiscus tak kalah cantik dengan mawar!

(photo by Dwi Purwanti/album Kampret/foliage

pretty yellow (photo by Prima Dien)

Dan memori otakku bekerja, membuka kembali file tentang masa kecilku. Bukankah dulu aku sangat akrab dengan bunga ini? Seringkali, aku dan Sastri memetik kelopaknya, dan meniupkan udara ke dalam rongga-rongga kelopak dari pangkalnya. Rongga-rongga itu pun menggelembung.

(photo by Hesti Edityo)

Atau meremas-remas daunnya dengan air hingga menghasilkan cairan mirip minyak yang aku pakai sebagai “minyak goreng” saat bermain “pasaran“. Simbah sering pula memakai daun-daunnya untuk obat demam ketika ada cucunya yang sakit. Biasanya Simbah memetiknya dari halaman rumah Sastri. Ya, di rumah Sastri tumbuh berjejer rapi bunga sepatu beraneka warna yang digunakan sebagai pagar. Melihat kebun miliknya, seakan aku melihat lagi halaman rumah Sastri dulu kala.

Sastri? Gadis manis berkepang dua, sahabatku dari kecil…

“Aku jadi ingat Sastri….” ucapku pelan, membuatnya memalingkan muka dengan cepat ke arahku.

File lain dalam memori otakku turut terbuka. Bukankah dia dan Sastri….

“Bunga-bunga ini seperti yang tumbuh di halaman rumah Sastri…” aku mengguman sendiri.

“Dia seperti bunga-bunga ini bukan? Indah dalam kesederhanaan…….” Getar suaranya seakan bertaut rindu yang menghujam.

“Kau masih merindukannya?” aku menatapnya. Bola matanya seakan mengembara, menembus batas teramat jauh.

“Keindahan yang sederhana biasanya akan abadi mengendap dalam hati….”

Ah, dia berfilosofi lagi. Tapi kali ini aku enggan mengomentarinya. Dia, Sastri dan bunga-bunga sepatu ini. Aku paham semuanya kini dan tak ingin mengusik kenangannya.

Memori otakku masih bekerja. Satu file kembali muncul, tentang kisah lalu sepasang merpati…

sepasang merpati (photo by Hesti Edityo)

Kisah sebelumnya :

Menjejak Hari

Iklan